Dikirimkan pada

every medal has two sides

pagi itu saya kirimi dia SMS, saya ajak bertemu siangnya. dia bilang bisa. kami sepakati untuk bertemu di IP. saya sampai duluan. saya bilang saya tunggu di Gramedia. dia masih di jalan, macet katanya. saya minta dia mengabari kalau sudah sampai. sejam sudah berlalu, tapi dia belum sampai juga. akhirnya saya bilang saya ke mushola dulu. begitu menginjak eskalator turun, dia bilang dia sudah sampai, sekarang di depan Hokben katanya. saya minta dia tunggu di situ, biar saya yang ke sana. akhirnya saya jalan memutar ke arah eskalator naik. sesampainya di atas, saya ngga lihat dia di depan Hokben. saya hubungi lagi dia, saya tanya apa bener dia di depan Hokben. dia bilang iya. saya bilang saya udah di depan Hokben tapi kok ngga lihat dia. akhirnya dia bilang dia di deket ATM. ok, itu di lantai dasar. saya turun lagi. sampai di tempat ATM berjajar saya tetap ngga lihat dia. saya hubungi dia lagi, dia bilang masih di tempat yang sama, di dekat jalan katanya. baterai HP saya sudah di bawah 10% dan kondisinya sudah ngedrop, jadi bisa mati kapan saja dia mau. saya diam di dekat ATM sambil berpikir; di depan Hokben? McD kali, katanya deket jalan. tapi katanya lagi di deket ATM. dengan agak bingung akhirnya saya putuskan untuk terus berpikir sambil berjalan mengelilingi bagian luar bangunan IP, memutar ke arah timur. saya berjalan agak cepat tapi mata berusaha awas mengamati sekitar. begitu sampai di depan Pizza Hut saya melihat orang yang saya cari, dia berdiri di pojok bangunan, menghadap ke arah persimpangan jalan. ah, leganya. sambil tersenyum saya hampiri dia. sampai di depannya saya ucapkan salam dan saya peluk dia.

terdengar aneh? kenapa bukannya saya diam di gramedia saja dan membiarkan dia yang menghampiri saya? kalau saja memang bisa semudah itu, tapi kenyataannya tidak. orang yang mau saya temui itu, seorang teman tunanetra. Desti namanya. ngga mungkin kan saya minta dia cari saya di bangunan sebesar IP.

“dianter siapa ke sini?” saya tanya
“tukang ojek”
“oh, kirain naik angkot”
“ngga, kalo naik angkot nanti malah makin lama nyampenya”
“Desti ih, ini mah bukan di depan Hokben!” saya gemes
“oh bukan? tadi kata si bapak di depan Hokben..”
“kata bapak siapa?”
“si bapak tukang ojek, katanya deket ATM juga”
saya lihat sekeliling tempat dia berdiri dan menghela nafas.
“bukan di depan Hokben, tapi di depan plang Hokben, Hokben-nya sendiri ada di lantai paling atas, selantai sama Gramedia. pantesan saya cariin ngga ada. terus ya, ini bukan deket ATM, tapi deket bank apa itu namanya ngga terkenal, dan ada ATM-nya. bikin bingung aja deh..” saya nyerocos sambil ngebatin, aduh itu tolong ya Mang ojek, udah tau penumpangnya tunanetra, mbok ya ngasih tau keterangan itu yang bener jangan sekenanya aja.

singkat cerita, kami ke mushola, sholat, naik ke foodcourt, cari makan. sambil ngobrol tentunya. selesai makan, turun, kami berhenti sebentar di depan booth aksesoris, saya bilang pengen lihat-lihat. dia cari gelang katanya. saya sebutkan ada gelang apa saja yang saya lihat di situ. saya jelaskan modelnya, bahannya, warnanya, dan harganya. ada yang bagus saya bilang, tapi harganya kurang bagus. mungkin hanya sekitar 5 menit kami di situ. entah dia merasa atau tidak, tapi saya merasa mbak-mbak penjaga booth memandang ke arah kami dengan cara yang tidak biasa. bisa ditebak bagaimana cara mereka menatap kami. saya pura-pura cuek saja, meski terkadang merasa sedikit risih. iya, saya tahu, teman di sebelah saya ini, yang saya gandeng-gandeng dari tadi itu tunanetra. terus kenapa? aneh ya ada tunanetra jalan-jalan ke mall cari gelang? dan karena tidak menemukan gelang yang cocok akhirnya kami pergi. turun lagi, ke arah supermarket sambil meneruskan obrolan. memang bukan hanya sekali itu saya merasa dipandang dengan cara yang tidak biasa oleh orang-orang yang berpapasan saat kami berkeliling, bahkan saat makan tadi juga. dan saat-saat lainnya ketika kami bersama. dan saya berusaha bersikap bahwa semuanya normal saja. senormal ketika saya jalan-jalan di mall bersama teman yang bukan tunanetra.

kami masuk ke supermarket, ada yang harus saya beli saya bilang. sambil berjalan masuk saya mulai mengabsen barang-barang yang saya lihat dan kami lalui untuk menawarkannya kepada teman saya itu, barangkali dia mau beli sesuatu juga tapi lupa.
minuman? yoghurt? bumbu masak? mie instan? kopi? teh? sirup? wafer? coklat? snack? permen? kue-kue? roti? sabun cuci? pewangi pakaian? sampo? sabun? tisu? pembalut? saya menyebutkan hampir semua isi rak yang kami lalui. waktu sampai di depan rak sampo dan sedang memilih-milih, tiba-tiba dia bilang, “Qisthi.. aneh ngga temenan sama Desti?”
saya yang tiba-tiba ditodong pertanyaan aneh itu cuma menjawab, “yah, kalo dibilang aneh, ngga aneh.. kalo dibilang ngga aneh, ya aneh..” dia ketawa. saya bilang lagi, “tergantung sudut pandang sih, tiap orang kan beda-beda..” dia mengiyakan.

sampai sekarang, saya masih ingat dialog itu. kenapa ya dia tanya begitu? mungkin dia juga merasakan pandangan orang-orang yang tidak biasa melihat kami jalan sama-sama.

_______

you may never see the world as the way it looks like to me..
but deep down, i believe that you can see the whole world even more clearly than i do..
you’re the only person who can read my tone when most people i know can’t even tell what my eyes truly say..
you are special..

One Response to every medal has two sides

  1. anggunbet ⋅

    satu kata :

    BAGUS…..!
    :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s