mencoba membaca jejak-jejak takdir. ke mana diri ini hendak diarahkan. ketika manusia diperbolehkan berharap, maka sesungguhnya ia juga diajarkan untuk bisa berpasrah. belajar tentang kekuatan dengan menyerahkan segala kelemahan. tentang menunggu dan mencoba menghampiri. tentang ruang, tentang waktu, tentang setiap kejadian. memahami tak pernah ada kebetulan. jika hidup adalah soal memilih, maka ‘kebetulan’ tak pernah ada dalam pilihan.
juga seperti yang pernah ditulis pada salah satu karya Salim A. fillah,
..Begitulah takdir. Hanya disebut begitu ketika sudah terjadi. Tapi dalam berbuat maksiat, janganlah kita menisbat. Karena selalu ada ruang di antara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih di antara bermacam tawaran. Untuk menyusun cita dan rencana. Lalu bertindak dengan prinsip indah, “Kita bisa lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula.”..
_meraba arah angin berhembus, bersiap melesatkan anak panah_
bukan kita yang memilih takdir
takdirlah yang memilih kita
bagaimanapun, takdir bagaikan angin
bagi seorang pemanah
kita selalu harus mencoba
untuk membidik dan melesatkannya
di saat yang paling tepat
-Shalahuddin Al Ayyubi-