Feeds:
Tulisan
Komentar

pintu

doors

maaf, pintunya kututup dulu ya.
tunggu saja di situ, kalau kau mau.
oya, kode kuncinya sudah kuubah.
hanya kalau kau sudah dapat kombinasi yang tepat baru kau bisa membukanya.
itupun kalau kau mau.

dia berbicara, setengah berbisik.
kau masih terdiam di luar.
mungkin sedang berpikir.
atau bahkan tak mendengarnya tadi berbicara padamu?
tidakkah kau akan melakukan sesuatu?

dan sepertinya kau masih asyik dengan duniamu.
menggenang. seperti air yang tertahan. tak bergerak dan merelakan dirimu menguap oleh waktu.

ada apa?
kenapa kau menatapku seperti itu?
apa kau tersinggung dengan ucapanku tadi?
maaf kalau begitu.

hhh.
kudengar kau menghela nafas.

lihat!
dia mengintip di celah itu.
dia melakukannya sesekali.
mungkin ingin mengetahui apakah kau masih di situ atau sudah beranjak.
apa kau tidak ingin mencoba masuk?
atau sekedar mengetuk?

kau terbenam.
apa yang kau lihat di sana?
apa yang sesungguhnya kau cari?

apa?
kau menatapku lagi.
apa kau meminta pendapatku?
membantumu menjawab pertanyaanku sendiri?
kenapa tak kau coba menemukannya di ruang kecil dalam dirimu?
segenggam gumpal yang membuatmu memiliki rasa.
ruang yang bisa terhubung langsung ke langit.
mengupas ragu yang membungkus kejujuran dalam dirimu yang terdalam.
ia tak akan berbohong. percayalah.
karena sekecil apapun lintasan di sana, dalam dinding buram ataupun bening, kuharap kau masih percaya ini: malaikat akan mencatat semuanya, menuliskannya dengan jujur.
tentunya kau tahu, malaikat selalu menulis dengan jujur.

apa lagi?
kau masih menatapku
lebih tajam. dalam.
aku tak bisa berkata banyak
kau tahu sendiri
aku hanya pintu.
antara kau dan dia.
kau, adalah dirinya yang di situ
dia, adalah dirimu yang di sana
aku tak begitu mengerti kenapa kalian berpisah
aku hanya pintu.

so close and yet so far

berlari

running1

kaki ini masih melangkah. menyeret debu dan pasir yang terinjak. mengatur nafas, terus berusaha berlari. terik matahari menyamarkan lelah otot-otot kaki,menghangatkan kepalan tangan yang semenjak pagi kedinginan. aku terus mencoba berlari. udara terasa masuk dan keluar, beriringan dengan keras di rahang. tak hanya keringat yang mengalir, darah pun terasa memenuhi setiap rongga. aku tahu wajahku memerah. seperti kepiting rebus, kata temanku yang pernah berkomentar tentang warna wajahku sehabis berlari beberapa tahun yang lalu dan aku hanya tersenyum. itu artinya ada darah mengalir di sana, kata ayahku suatu ketika saat aku bercerita. yang kutahu, aku hanya ingin terus berlari sesaat setelah langkah pertama kumulai. sejak kecil aku suka berlari. hm. bukankah berlari adalah sesuatu yang normal yang bisa dilakukan setiap manusia? kecuali yang difable, mungkin -tapi tentunya mereka pun bisa berlari menurut versi mereka sendiri-. anak kecil, remaja, dewasa, lanjut usia, semua bisa berlari, tanpa memerlukan keterampilan atau keahlian khusus. yang mengalami pelatihan adalah daya tahan dan waktu tempuh, hanya itu.
dan aku terus berlari. menatap ke depan. melihat kiri dan kanan hanya akan memperlambat langkah dan mengacaukan fokus. aku mencoba mengingat jumlah putaran yang sudah kulalui, memperkirakan berapa putaran lagi yang sanggup kutempuh dengan langkah yang rasanya mulai melambat ini. tiba-tiba ia melesat mendahuluiku. kutatap punggungnya. aku mulai menambah kecepatan, berusaha mengejarnya. tak bisa. ia jauh lebih cepat. kuatur kecepatan, konstan, agar tetap bisa bernafas dengan baik. ia sudah menghilang, tak terlihat. aku terus berlari. kalaupun tak bisa mengejar, setidaknya aku tidak ‘dikejar’ lagi. drap,drap,drap. langkah kaki semakin terasa ketika menjejak. hangat tubuh mulai memanas. yang kutahu aku harus terus berlari. aku ingin terus berlari.

_masih bingung, yang mana yang bener; ngejar2 waktu, ato dikejar2 waktu?_

..dan waktu terus bergerak, karena ia hidup.

running2

decode

mencoba membaca jejak-jejak takdir. ke mana diri ini hendak diarahkan. ketika manusia diperbolehkan berharap, maka sesungguhnya ia juga diajarkan untuk bisa berpasrah. belajar tentang kekuatan dengan menyerahkan segala kelemahan. tentang menunggu dan mencoba menghampiri. tentang ruang, tentang waktu, tentang setiap kejadian. memahami tak pernah ada kebetulan. jika hidup adalah soal memilih, maka ‘kebetulan’ tak pernah ada dalam pilihan.

juga seperti yang pernah ditulis pada salah satu karya Salim A. fillah,
..Begitulah takdir. Hanya disebut begitu ketika sudah terjadi. Tapi dalam berbuat maksiat, janganlah kita menisbat. Karena selalu ada ruang di antara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih di antara bermacam tawaran. Untuk menyusun cita dan rencana. Lalu bertindak dengan prinsip indah, “Kita bisa lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula.”..

_meraba arah angin berhembus, bersiap melesatkan anak panah_

bukan kita yang memilih takdir
takdirlah yang memilih kita
bagaimanapun, takdir bagaikan angin
bagi seorang pemanah
kita selalu harus mencoba
untuk membidik dan melesatkannya
di saat yang paling tepat
-Shalahuddin Al Ayyubi-

once upon a time

cry2

There was a bumble bee

Swinging, flying inside of me

Something hides inside

A smile that’s so small

She wants you to know…

Yes, she does

She really-really cares bout you

***

Tuhan…

ajari saya,

untuk saat ini

sungguh

apa yang saya tahu, menjadi hampa

apa yang saya rasa menjadi sia-sia


sungguh

rasa hati enggan meminta apa-apa

lalu bertanya

kenapa yang tercipta menjadi semu antara nyata dan tiada


Tuhan

saya melihat cermin yang mulai retak dari ujungnya

membawa gelap bayangan hitam di setiap akhirnya


Tuhan

saya meminta pada siapa?

menghapus semburat patah nadi

yang terus mengalir

menutup luka rasa

yang mengatup pembuluh jantung


untuk apa?

saya sangat tidak mengerti

apakah semua takdir ditulis

melalui rasa sakit yang teramat tak terbiasa


ataukah melalui pertanyaan yang mengutuk

dalam setiap doa yang belum terkabulkan


ataukah hanya seperti ini

agar suatu saat saya mengerti

tapi mengerti apa?

apa-apa yang membuat saya

marah, kecewa, terluka, bertanya?


seperti suara gerimis

di balik gelap ujung malam

mengiris setiap helaian mimpi manusia

yang hilang dalam tidurnya

***

begitu mudahnya sekarang

seperti angin berkata, alangkah tidak adilnya

sesungguhnya saya milik saya sendiri

walaupun ketika langit menghujan dan mentari mulai terik

saya akan merasa

tapi


sayalah yang harus menentukan sendiri seharusnya

apa yang bisa dan seharusnya kini berhenti


tapi mungkin

saya juga sebenarnya belum memahami

hadirnya anda

walaupun hanya pantulan

dari cermin buram hati


merusak semua hukum yang berjalan

dalam segenap hidup saya


bahwa saya adalah orang yang berhak

memberi perintah pada hati

merasa

terjatuh

atau berhenti


lalu siapa anda

seenaknya saja masuk tanpa mengetuk

terdiam di sana

duduk di halaman dalam hati saya


kadang tersenyum bersama pagi

atau merusak malam

dengan segala kekacauan


lalu membuat saya menunggu esok


bertanya


bertanya


apakah esok tuan akan tersenyum pada saya

membuat saya merasa yang terindah di atas dunia

atau sekali lagi membalikkan punggung tanpa menoleh

mengiringi gelap yang menguasai


padahal saya hanya meminjam bayangan anda

sejenak melukisnya di cermin hati


hati anda?

andalah yang tahu sendiri

sangat bimbang untuk saya saat ini bila boleh

mengetahuinya


logika dan rasio serta hati mungkin juga ketamakan rasa

masih berdebat dalam larut batin


apakah bayangan yang hadir ini?


apakah yang sungguh saya ingini?


apakah hanya saya yang meminjam

sosok anda untuk  melukiskan ini?


tuan?

apakah saya pada anda?

***

apakah sejauh ini, seperti ini

apa yang mungkin disebut

seperti rasa ingin mengerti


apakah sejauh ini, seperti ini

apa yang mungkin disebut

seperti rasa ingin mengerti


seperti luapan rasa ingin

yang beriak-riak menggelombang

membunuh seluruh ketidak inginan


seperti mungkin,

melihat bintang yang jatuh

memohonkan mimpi

dan andaikan terizinkan,

apakah Tuhan pun berkenan mengabulkan?


yang ada seperti kembang api

di dalamnya gelapan hati

warna gelap dipendar terang


percik,

terpercik

terang,

memainkan serupa benderang

walaupun hanya sesilau cahaya bulan


anda yang berdiri di sana

membelah para bayangan

yang menjadi tidak ada

apakah doa saya dikabulkan?


lalu, maafkan saya


bila tidak sopan inginkan jawabnya

apakah berkenan

saya merasa?


apakah anda hanya tidak sengaja membuat saya terluka,

tertatih tumpu pada ceritanya?

bersandar lelah pada dindingnya?

pada anda?

there’s a bumble bee

swinging, flying inside of me

tersimpuh

hampa adalah rasa yang seluruh

terpekur dalam relung nadi

berdetak seperti hampir mati


pelan

perlahan

kata-kata yang kemudian hanya tertahan


apakah entah?

apakah hanya diam yang menusuk

melalui tiap celah?


hampa telah seluruh

meminta diam menjadi panutan

memohon sepi membawa gelap kembali


diam

tidurlah

sampai fajar mungkin akan menanti

teach me

the art of letting go


something that’s perhaps not that easy

to let go


like this

a bumble bee

inside my heart


teach me

to smile when you draw your line from me

to turn around from this journey

to keep the silence inside of me


teach me

to pray for your dream,

for I realize it’s never gonna be me

to say good bye,

without a regret for me


teach me

to tell my heart

to feel you

is to hurt me

diambil dari buku Monokrom

sebuah percakapan

di lembar-lembar putih tanpa halaman

oleh penulis yang namanya tidak disebutkan

but i guess i know who,

yeah, you, I just know it’s you!

maka haturan kasih –seperti dalam buku, bukan terima kasih, karena sayalah yang menghaturkan kepada yang saya kasihi-

kepada Tuhan yang begitu Pengasih, dengan segala takdirNya yang harus dimengerti

kepada semua yang berada dalam takdir saya

termasuk tulisan dalam Monokrom

yang telah membantu menguraikan

sesuatu yang pernah terjadi

dan inilah terima kasih, karena kali ini saya yang menerima kasih

Copy of monokrom cover

melihat

malam itu. 20:45. HP bunyi. ada telepon masuk. nomor nggak dikenal. jadi ragu untuk ngangkat. angkat. nggak. angkat. ngga. bismillah. diangkat.
“halo, assalaamu’alaykum..”
“wa’alaykumussalam..”
“dengan bu Qisthi?”

-hah?? ibu..?? tua banget. >_<!-
“eu.. iya, betul..”, masih bingung, siapa ya?
“ini dari asuransi..”
-haa?? asuransi??! masih dalam keadaan bengong, tiba-tiba mendengar suara cekikikan di ujung sana. hee??!-
“ah, lupa yaa??”
“waduh, sebentar.. siapa yaa?”,
berpikir.. mengingat.. “coba.. coba.. ngomong lagi..” siapa tahu bisa inget kalo merhatiin suaranya lagi
“ah, ngga mau ah.. lupa yaa??”
-lah, katanya ngga mau tapi kok ngomong?? hehe..-
hmm.. finally i found out! teringat dengan suara dan nada cekikikannya, plus suka jail di awal pembicaraan. akhirnya tersebut satu nama dengan mantap. dan orang yang disebut namanya di seberang sana cekikikan lagi.
hoooh.. anak ini, nggak berubah! dulu ngakunya dari kantor polisi. sekarang asuransi. nanti lagi dari pemadam kebakaran ato petugas pemakaman, mungkin.
“apa kabar nih, calon ibu?”, abis nanya cekikikan lagi
“haah?? calon ibu?”, dahi mengernyit -apaan sih ni anak?-
“jangan-jangan yang di sana nih yang udah jadi calon ibu?”, balik godain ah.. hehehe..
dan obrolan pun ngalor-ngidul. ngulon-wetan. maklum, teman lama, lama ngga ketemu. macem-macem yang diobrolin. sampe akhirnya di tengah-tengah obrolan dia nyeletuk,
“Qisthi udah nikah ya?”
“haah???! belooom..”
-ni anak kesambet apaan sih??!-
“ah, bohooong..”
“lah? beneeerr.. belooom.. ngapain juga bo’ong?”
“masa’ sih?”
-ngeyel banget sih?-
“iyaaa..” -gemes-
“katanya udah nikah..?”, kali ini nada suaranya terdengar bingung
“kata siapa?” -penasaran-
“jadi kan kemaren-kemaren xxxxx dateng, yang adiknya xxxx itu..”
“iya..?”
“nah, terus ngobrol-ngobrol, nanya-nanya, ‘kenal sama Qisthi ngga?’ ‘iya’ katanya, trus dia bilang Qisthi udah nikah..”
“haaah?? belom koooo…”
-mungkin dia mengigau, haha-
walah-walah.. ada-ada aja orang-orang ini..

STOP. bukan itu inti ceritanya. yah, itu mah bumbu-bumbu aja.. hehe..
yak! obrolan akhirnya berlanjut, kembali ngalor ngidul. cekikikan di sana, ngakak di sini. oops, ngga ngakak-ngakak banget sih, tapi cukup berhasil bikin otot-otot pipi pegel. saya sempet terharu juga teman lama ini masih ingat untuk menelpon saya, bahkan hebatnya dia masih hafal no HP saya. hebatkah? ya, hebat, menurut saya pribadi. well.. teman saya itu salah satu teman yang istimewa. dia tunanetra. dia mengaku tak mencatat nomor telepon rumah ataupun nomor HP yang pernah saya kasih. di awal pembicaraan dia bilang dia lupa nomor telepon rumah saya, dan sempet nyasar-nyasar waktu mencoba menghubungi saya. tapi untung dia masih ingat nomor HP saya, dia bilang. saya terharu, sungguh. saya jadi merasa bersalah karena sangat jarang mengunjunginya. terakhir berkunjung sepertinya sekitar 3 tahun yang lalu. ah, maafkan aku, teman..

setelah obrolan di HP berakhir, saya jadi teringat kisah saya dengan salah seorang teman tunanetra lainnya. waktu itu saya dan dia berjalan-jalan keliling kompleks Wyata Guna, Jl. Pajajaran, Bandung. kami berjalan-jalan sambil mengobrol. sampai saat melintasi kompleks asrama, tiba-tiba kaki saya tersandung undakan (tangga kecil) yang kami lewati.
“astaghfirullah..”, saya hampir terjatuh
“ahahahahaha…”, dia tertawa. menertawakan saya tepatnya. saya cuma bisa bengong.
“Qisthi kesandung, yaa?”, dia tertawa lagi, geli
“hehe.. iya”, saya cengengesan, malu
“kok bisa sih? Qisthi kan matanya awas..”
“hehe.. iya ya..”

hmm.. iya juga, mata saya kan masih awas, kok bisa kesandung? sedangkan dia? tunanetra dan nggak kesandung. padahal kita bareng-bareng ngelewatin jalan yang sama.

sampai saat ini saya masih ingat cara dia menertawakan saya.
bukan tawa yang mencemooh, tapi justru tawa keheranan yang mengingatkan.
mengingatkan saya kalau tidak selamanya yang punya mata itu bisa melihat lebih jelas dari yang tidak punya.

kita tahu, bahwa hal mendasar dalam melihat adalah adanya cahaya.
sebuah benda, sebagus apapun itu, kalau tidak memantulkan cahaya, dia tidak akan terlihat.

dan dalam konteks ‘melihat’ secara umum, luas dan utuh, melihat memang ngga cukup pake mata.
bagaimana caranya mengajarkan warna pada tunanetra atau buta warna? memperdengarkan musik pada tunarungu?
rasanya saya tidak pernah menemukan ada orang yang tuli sekaligus buta. tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau ada orang yang seperti itu, betapa sulitnya untuk memahami sesuatu. maka Allah memang Maha Adil. ketika Ia Mengambil sesuatu, maka Ia akan Memberi sesuatu yang lainnya.

ada satu pernyataan seorang sahabat tunanetra yang sangat berkesan:
’saya bersyukur meskipun Allah tidak memberikan saya penglihatan, karena itu membuat saya lebih bisa menjaga hati dengan tidak melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat’

sebuah penerimaan atas sesuatu yang ‘diambil’, sebuah penyerahan diri yang tulus dari seseorang yang terlihat punya kekurangan.
lalu bagaimana seharusnya seseorang yang diberi begitu banyak kelebihan?

cahaya itu mungkin terpantul di mata, tapi jika tidak masuk ke dalam hati, ia mungkin tak bisa selamanya menerangi.

lost night

sudah lama sekali aku tidak punya malam seperti ini..
telentang memandangi langit-langit ruangan.. malam yang sepi, tenang, damai.. seolah hanya aku yang masih terjaga. menyaksikan malam bergulir perlahan, mendorong hari untuk berpindah. rasanya ada ketegangan yang mengalir perlahan dari sela-sela rusuk. ku hembuskan nafas perlahan; nafas yang berat dan pelan, tapi aku menikmatinya, merasakan setiap hirup dan hela. udara dingin belum turun, mungkin sekitar 1 atau 2 jam lagi. aku menyibukkan diri dengan berpikir. cara lama untuk sedikit menghibur diri. memikirkan apapun yang terpikirkan. melintasi setiap jalan pikiran, mencoba memahami perjalanannya. hingga terkadang sesekali dahi sedikit terkerut dan rahang terasa mengeras saat hal-hal yang agak berat dan serius terpikir. sampai otak “tanpa sadar” mengistirahatkan dirinya sendiri, membaringkan lelah hingga terlelap. kuakui ini menyenangkan, sangat menyenangkan sampai aku tak peduli kalau malam ini harus tidur di sofa ruang tamu ketika teringat adikku tersayang telah berhasil menginvasi dan menjajah tempat tidurku beberapa jam lalu. dan beruntungnya dia, aku tidak tega membangunkannya untuk pindah dan memilih membiarkannya tetap di sana. aku mendapatkan kesempatan ini sebagai gantinya, menikmati malam dengan cara lama.

aku suka malam. tanpa kegelapan kita takkan pernah melihat bintang. kita butuh kegelapan untuk bisa membedakannya dengan cahaya. dan aku juga suka siang. tanpa cahaya kita takkan pernah melihat pelangi.

ceracau

kacau.
aku harus melakukan sesuatu.
akhirnya kuputuskan untuk menghubungi seorang sahabat.
berharap menemukan sesuatu.

terkirim:
asw.lg ngapain?hehe..tb2 kpikirn mw nanya,xxxx bs mganalisis org dr karya tulisny g?sbrp tajam+akurat?btw,kangen ngobrol byk deh,kmrn2 blm puas rasanya.. :)

diterima:
Wah
syg skali,
xxx g bs qist..
it msti dpdalam d s2.
Doain aj xxx bs s2 y..
Mw mint dianalisis y?

ayoo,
mw ngbrol apa?
Daku siap mdengarkn.
Mw nikah y?
Hehe..

hmhh..kenapa selalu tentang nikah?!
akhir-akhir ini orang-orang seperti tidak punya basa basi yang lain.

terkirim:
amiin,mdh2n xxxx bs s2. :) hehe..
udh jls xxxx yg bkl duluan nikah,insyaAllah,bi idznillah.. ;)
lg bth tmn ngobrol aj ko..g tw knp,mski udh g bgtu ksulitn u kmnks sm org lain,tp rasany sy jauh lbh ttutup dbndgin wkt sma dlu.sy jauh lbh nyaman mympn smwny sndri aj.
xxxx pny YM ID g?mw dong..

bukan. bukan ini sebenarnya yang harus didiskusikan. tapi kenapa otak ini ngga bisa kompromi??! dan jempol dengan seenaknya mencet-mencet duluan sebelum otak bisa mikir yang bener.

diterima:
__________________@yahoo.com

ya,
mgkin qisthi jg masi mgunakan topeng ktka b’intraksi,
shingga trust it g muncul..

kdg2
prlu jg u/ tlihat bodoh&mnertawakn kbodohn dri pd be2rp org yg qt pilih..
C=

hah! bukankah setiap orang sebenarnya memakai topeng?!!
umm, tidak untuk ‘beberapa’ orang yang kuyakini, tepatnya..
tapi.. ketika bahkan berusaha menutupi perasaan yang ada pada diri sendiri juga berarti memakai topeng, kan..??!
termasuk untuk TERLIHAT bodoh dan menertawakan kebodohan diri..terkadang itu bisa menjadi kepura-puraan yang sempurna.perbedaannya sangat tipis; menghibur orang lain atau menghibur diri sendiri. atau keduanya, itu sedikit mengurangi rasa bersalah.

terkirim:
hm.tepat.
sdh bbrp tpilih u mlihat tnp topeng.tp ttp aj mrk g bs liat sy utuh,dn mmg lbh baik bgtu.mskpn ad jg yg mgkn g sadar klo sy sdh mnunjukkn yg nyaris utuh tpat d dpn matany.mgkn knyataanny dia mmg bkn org yg tpat u itu.haha.maaf xxx,jd meracau gini.kykny mlm ini sy emg lg g beres, hehe.. ;)

hh.. ngga ada salahnya nerusin topik yang udah dimulai.

diterima:
Emg dr dlu kamu mah kyk gtu,
melankolis pisan..
G mslh,
it kan khasny qisthi.
Hehe.

lg mrasa ksepian y..
C=

terkirim:
haha. kesepian.kt yg ckp bgs u saat ini.sy mikir..skrg mlh g bs mikir,hehe..udh cb lari2,siapa tw otak bs lbh encer,blm bs jg..mgkn hrs nyelem dlu smp kmasukn air biar bs lbh encer lg, :P
btw,emg sy seMELANKOLIS itu y?kronis?akut?ato mlh laten?haha..

oh, i go weak inside
and now i just can’t hide
please hold me tight

diterima:
Ya it gmn kondsi.
Tp saat ni
kdar melankolisny lg mraja.

g usah mnyelam u/ m’encerkn otak.
Temukn lingkn yg bs m’imbangi krktr it..
Ada baikny qisthi bnyak2 bgaul ma anak TK,
biar ktularn sanguin..
C=

mgkin saat ini sdg mrasa kering,gersang atw bhkn kolaps!
Tp
bjanjilah hny u/ mlam ini saja..
Hehe..

terkirim:
hm.aneh y,sktr sy basah tp ko sy kering&gersang?kykny emg hrs nyelem dlu sbntr,sbntr aj ko.cm bwt teriak biar air bs msk dn bkin sy bsh. blh kn? ;)
sy akn brusaha bjanji,hehe,insyaAllah..malam ini aj..sy kolaps ckup mlm ini aj.mdh2n..
miss u sis..
smg bs ktmu d YM sgra,jzk udh mw nanggepin.wass

diterima:
iyyaaa..
Oyasuminasai!

hmm,
klo dah kyk gni
xxxx kliatn
dwasa&bijaksini y..
Haha..
=D
Wa’alaikumslam.

selamat!
sepertinya aku terselamatkan dengan caranya, entah dia sadar atau tidak.

terkirim:
haha.iya jg y..
tp tggu,kli ini sy jd lbh bsmgt u mgakhiri kolaps mlm ini jg dn mrebut piala itu.sy akn brusha u mjd lbh dwasa lg,sprt biasany!slmt mlm, =)

diterima:
Yeey,
g mw ngalah..!

gpp deh,
xxxx dwasany d saat2 tepat aj,,
slebihny
sanguin yg menggurita.

selamat malam!
(kyk pbwa berita aj)
=D

ya. kedewasaan yang tepat.
bagaimana pun juga, dalam setiap diri orang dewasa, masih tersimpan jiwa kekanak-kanakannya.
semoga aku juga memang kolaps di saat yang tepat; saat tak ada yang membutuhkan kedewasaanku.

aku bersyukur memilikimu, sahabat!
seorang psikolog sangunis yang bersedia menemani ke-melankolis-anku sampai titik akhirnya.

hmm,
aku tidak begitu yakin dengan perasaanku saat ini. apa yang sebenarnya coba ku yakinkan pada diriku sendiri. entah karena terlalu banyak, atau ternyata karena memang sebetulnya tak ada sama sekali.
aku sungguh-sungguh tak mengerti.

AKU,
MENUNGGU sambil BERPIKIR sambil MENCARI sambil MERASA sambil MEMBACA sambil MENGURAI sambil MENDENGAR sambil BERJAGA sambil BERJALAN sambil BERMIMPI sambil BERHARAP sambil BERDOA sambil H.I.D.U.P,
seperti seharusnya, saat ini.

this is who i am
a part of me that you don't understand

a LITTLE part of me that you don't understand
>>This Is Who I Am, Michael Learns To Rock

a little part-you-don't understand-of me

and i don't want the world to see me
cause i don't think that they'd understand
when everything's made to be broken
i just want you to know who i am

and you can't fight the tears that ain't coming
or the moment of truth in your life
when everything feels like the movies
yeah you bleed just to know you're alive
>>Iris, Goo Goo Dolls

love guides her home

pagi itu ia terbangun dengan omelan sang mama yang sedang kesal padanya. matanya mengerjap-ngerjap malas. dengan terpaksa dia bangkit dari kasurnya, telinganya masih mendengar gerutu sang mama. kata-kata terus meluncur dari mulut mamanya. ia hanya menghembuskan nafas berat, berusaha tak menimpali, amarahnya hanya bisa berbisik dalam dada. mereka resmi bertengkar pagi itu. pertengkaran kecil. bukan yang pertama kalinya.

akhirnya ia sudah siap berangkat dari rumah. dalam perang dingin itu ia tetap mencium tangan sang mama sambil mengucap salam,  meski terdengar lebih datar dari biasanya. lagi-lagi ia hanya menghembuskan nafas berat. berat di dada, berat di mata. rasa perih itu mengalir perlahan, dari bilik hati, sampai akhirnya keluar dari matanya. di awal perjalanan menuju tempatnya beraktivitas, ia mengerjap-ngerjapkan matanya lebih sering, berharap air di matanya itu lebih cepat menguap dan menghilang, sebelum ada orang yang tahu kalau ia menangis. pagi itu ia berangkat dengan membawa luka di hatinya. saat itu ia tidak berniat pulang ke rumah hari itu. rasa angkuh masih bersisa, memintanya menjauh dari sang mama untuk sementara. ia berpikir, kirimkan saja bunga sebagai tanda permintaan maaf pada sang mama. ia pernah dengar bahwa bunga yang melambangkan ucapan maaf adalah bunga yang berwana kuning, tapi ia tak tahu bunga jenis apa tepatnya. niat itu menggantung.

sore itu ia mendengar kabar, ibunda seorang temannya meninggal dunia. seketika itu pula ia teringat sang mama. tak terbayang olehnya jika ia yang kehilangan mama. tidak. tidak boleh terjadi dalam keadaan seburuk ini, pikirnya.

sampai akhirnya tiba saatnya untuk pulang. ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya semula. ia memilih pulang ke rumah, mengantarkan dirinya -yang baru menyadari saat itu berbaju kuning- sebagai pengganti bunga tanda ucapan maaf. entah kabur ke mana angkuhnya saat itu. yang ia tahu, tiba-tiba ia rindu sang mama.

ia pun pulang ke rumah. sampai akhirnya bertatap muka kembali dengan sang mama. ia melihat sekilas dan berpaling. ia masih kebingungan mencari cara untuk mencairkan sebongkah es di antara mereka. sampai akhirnya ia menemukan sebuah kotak kecil tergeletak di dekat rak. ia penasaran. ia mencoba membuka kotak untuk mengetahui isinya. namun segera terhenti begitu sang mama melirik ke arahnya. ia kembali beranjak, menjauh. gengsi. hingga rasa penasarannya datang lagi, kali lebih besar dan tanpa gengsi. ia membuka kotak itu, sambil duduk di sebelah sang mama dan memberanikan diri bertanya, “ini apa sih, ma?”. sang mama hanya terdiam menyaksikannya membuka kotak. dan ketika akhirnya ia mengeluarkan isi kotak, ia mendapati bintang-bintang yang terangkai dengan tongkat-tongkat mungil yang menimbulkan gemerincing suara. hiasan kamar. benda yang sudah sejak lama ia inginkan. matanya berbinar, seperti terkena pantulan cahaya bintang-bintang kecil itu saat tersinari lampu. ia terharu. ia masih belum bisa berucap banyak pada sang mama. tertegun. tapi ia bersegera menggantungkan hiasan itu sebagai rasa terima kasihnya. sang mama tahu itu.

mungkin ini alasan kenapa akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah hari itu. bukan hanya karena berita kematian seorang ibu. tapi juga ada cinta mama yang memanggil hatinya untuk pulang. tanpa sepatah kata. hanya gelombang rasa yang terkirim entah dengan media apa.

malam itu terasa lebih terang dari biasanya. dengan binar-binar cahaya bintang di matanya, lamat-lamat senandung lirih masa kecil tergumam,

kasih ibu kepada beta

tak terhingga sepanjang masa

hanya memberi

tak harap kembali

bagai sang surya

menyinari dunia

..dan dalam hatinya terucap, ‘ ya Allah, terima kasih telah memilihkan mama yang ini untukku..’

away

maaf aku tak datang. betapa ingin aku berada di sana. tapi sekuat itu pula aku berusaha menjaga jarak, agar kau bisa rindu padaku. bukankah dengan adanya rindu sebuah pertemuan akan menjadi lebih berarti..?

tapi sudah ku titipkan doa untuk diangkat ke langit. doa yang sederhana. lirih ku bisikkan dari relung yang terdalam, dan ku biarkan menggema di dalam hati, agar aku teringat untuk terus mendoakanmu. untuk menjadi lebih baik.

memiliki kehilangan

239015560_b39cd9dc50_m

katakan padaku,

bagaimana caranya mengetahui bahwa sesuatu itu berharga?

apakah harus selalu dengan KEHILANGAN dulu?

..jadi teringat kata-kata guru fisika semasa SMA: “sebenarnya tidak ada istilah ‘hilang’, karena sesuatu yang ‘hilang’ itu sesungguhnya hanya berpindah tempat”..

tapi kehilangan ini,

aku tak tahu ke mana ia berpindah tempat.

3410022894_97b523857e_m

Tulisan Sebelumnya »