malam itu. 20:45. HP bunyi. ada telepon masuk. nomor nggak dikenal. jadi ragu untuk ngangkat. angkat. nggak. angkat. ngga. bismillah. diangkat.
“halo, assalaamu’alaykum..”
“wa’alaykumussalam..”
“dengan bu Qisthi?”
-hah?? ibu..?? tua banget. >_<!-
“eu.. iya, betul..”, masih bingung, siapa ya?
“ini dari asuransi..”
-haa?? asuransi??! masih dalam keadaan bengong, tiba-tiba mendengar suara cekikikan di ujung sana. hee??!-
“ah, lupa yaa??”
“waduh, sebentar.. siapa yaa?”, berpikir.. mengingat.. “coba.. coba.. ngomong lagi..” siapa tahu bisa inget kalo merhatiin suaranya lagi
“ah, ngga mau ah.. lupa yaa??”
-lah, katanya ngga mau tapi kok ngomong?? hehe..-
hmm.. finally i found out! teringat dengan suara dan nada cekikikannya, plus suka jail di awal pembicaraan. akhirnya tersebut satu nama dengan mantap. dan orang yang disebut namanya di seberang sana cekikikan lagi.
hoooh.. anak ini, nggak berubah! dulu ngakunya dari kantor polisi. sekarang asuransi. nanti lagi dari pemadam kebakaran ato petugas pemakaman, mungkin.
“apa kabar nih, calon ibu?”, abis nanya cekikikan lagi
“haah?? calon ibu?”, dahi mengernyit -apaan sih ni anak?-
“jangan-jangan yang di sana nih yang udah jadi calon ibu?”, balik godain ah.. hehehe..
dan obrolan pun ngalor-ngidul. ngulon-wetan. maklum, teman lama, lama ngga ketemu. macem-macem yang diobrolin. sampe akhirnya di tengah-tengah obrolan dia nyeletuk,
“Qisthi udah nikah ya?”
“haah???! belooom..” -ni anak kesambet apaan sih??!-
“ah, bohooong..”
“lah? beneeerr.. belooom.. ngapain juga bo’ong?”
“masa’ sih?” -ngeyel banget sih?-
“iyaaa..” -gemes-
“katanya udah nikah..?”, kali ini nada suaranya terdengar bingung
“kata siapa?” -penasaran-
“jadi kan kemaren-kemaren xxxxx dateng, yang adiknya xxxx itu..”
“iya..?”
“nah, terus ngobrol-ngobrol, nanya-nanya, ‘kenal sama Qisthi ngga?’ ‘iya’ katanya, trus dia bilang Qisthi udah nikah..”
“haaah?? belom koooo…” -mungkin dia mengigau, haha-
walah-walah.. ada-ada aja orang-orang ini..
STOP. bukan itu inti ceritanya. yah, itu mah bumbu-bumbu aja.. hehe..
yak! obrolan akhirnya berlanjut, kembali ngalor ngidul. cekikikan di sana, ngakak di sini. oops, ngga ngakak-ngakak banget sih, tapi cukup berhasil bikin otot-otot pipi pegel. saya sempet terharu juga teman lama ini masih ingat untuk menelpon saya, bahkan hebatnya dia masih hafal no HP saya. hebatkah? ya, hebat, menurut saya pribadi. well.. teman saya itu salah satu teman yang istimewa. dia tunanetra. dia mengaku tak mencatat nomor telepon rumah ataupun nomor HP yang pernah saya kasih. di awal pembicaraan dia bilang dia lupa nomor telepon rumah saya, dan sempet nyasar-nyasar waktu mencoba menghubungi saya. tapi untung dia masih ingat nomor HP saya, dia bilang. saya terharu, sungguh. saya jadi merasa bersalah karena sangat jarang mengunjunginya. terakhir berkunjung sepertinya sekitar 3 tahun yang lalu. ah, maafkan aku, teman..
setelah obrolan di HP berakhir, saya jadi teringat kisah saya dengan salah seorang teman tunanetra lainnya. waktu itu saya dan dia berjalan-jalan keliling kompleks Wyata Guna, Jl. Pajajaran, Bandung. kami berjalan-jalan sambil mengobrol. sampai saat melintasi kompleks asrama, tiba-tiba kaki saya tersandung undakan (tangga kecil) yang kami lewati.
“astaghfirullah..”, saya hampir terjatuh
“ahahahahaha…”, dia tertawa. menertawakan saya tepatnya. saya cuma bisa bengong.
“Qisthi kesandung, yaa?”, dia tertawa lagi, geli
“hehe.. iya”, saya cengengesan, malu
“kok bisa sih? Qisthi kan matanya awas..”
“hehe.. iya ya..”
hmm.. iya juga, mata saya kan masih awas, kok bisa kesandung? sedangkan dia? tunanetra dan nggak kesandung. padahal kita bareng-bareng ngelewatin jalan yang sama.
sampai saat ini saya masih ingat cara dia menertawakan saya.
bukan tawa yang mencemooh, tapi justru tawa keheranan yang mengingatkan.
mengingatkan saya kalau tidak selamanya yang punya mata itu bisa melihat lebih jelas dari yang tidak punya.
kita tahu, bahwa hal mendasar dalam melihat adalah adanya cahaya.
sebuah benda, sebagus apapun itu, kalau tidak memantulkan cahaya, dia tidak akan terlihat.
dan dalam konteks ‘melihat’ secara umum, luas dan utuh, melihat memang ngga cukup pake mata.
bagaimana caranya mengajarkan warna pada tunanetra atau buta warna? memperdengarkan musik pada tunarungu?
rasanya saya tidak pernah menemukan ada orang yang tuli sekaligus buta. tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau ada orang yang seperti itu, betapa sulitnya untuk memahami sesuatu. maka Allah memang Maha Adil. ketika Ia Mengambil sesuatu, maka Ia akan Memberi sesuatu yang lainnya.
ada satu pernyataan seorang sahabat tunanetra yang sangat berkesan:
’saya bersyukur meskipun Allah tidak memberikan saya penglihatan, karena itu membuat saya lebih bisa menjaga hati dengan tidak melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat’
sebuah penerimaan atas sesuatu yang ‘diambil’, sebuah penyerahan diri yang tulus dari seseorang yang terlihat punya kekurangan.
lalu bagaimana seharusnya seseorang yang diberi begitu banyak kelebihan?
cahaya itu mungkin terpantul di mata, tapi jika tidak masuk ke dalam hati, ia mungkin tak bisa selamanya menerangi.



